Agama Sama Dengan Dien?

Para cerdik cendikia barat sendiri gagal dalam memformulasikan apakah sebenarnya agama itu. Beberapa definisi tentang agama yang mereka kemukakan ternyata lebih banyak dipengaruhi trauma mereka pada keabsolutan kekuasaan gereja pada masa abad pertengahan. Di antaranya adalah F. Schleiermacher yang mengatakan bahwa agama adalah “rasa ketergantungan yang absolut”.
Kalau Scott Peck memaknai agama dengan “takhayul dan dogma yang menghancurkan”. Senada dengan yang dipahami Freud, ia menganggap agama sebagai justifikasi ketidakjujuran dan pelanggaran terhadap intelektual. Scott dan Freud termasuk gambaran orang yang mengidap paham rasionalisme dengan menolak kebenaran wahyu.
Para pegiat revolusi Prancis yang dianggap sebagai penyingkap the dark age di Eropa menuju masa yang mereka sebut sebagai anlightment seperti Voltaire dan Rousseau bahkan membenci agama. Mereka menuduh agama sebagai biang kemunduran bangsa Eropa. Keselamatan (salvation) dapat diraih tanpa bantuan Tuhan. Ilusi inilah yang menyebabkan materi menjadi tujuan utama dunia barat.  Para sosiolog berbeda lagi dalam memandang agama, menurut mereka agama adalah fanatisme. Tampaknya kasus tabloid olahraga pada awal tulisan ini  sebagai contoh konkret bagi aliran ini.
Dari berbagai definisi di atas, dapat diambil benang merah betapa telah terjadi kerancuan berpikir (confused thaugth) yang hebat di dunia barat terhadap agama. Beberapa definisi yang mereka kemukakan ternyata lebih merupakan problem baru daripada solusi sehingga berakibat fatal berupa pereduksian yang lancang pada hakikat dan makna agama.
DIEN BUKAN SEKEDAR AGAMA
Dalam bahasa Indonesia kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna, “tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun-temurun.” Dalam bahasa Arab dan Semit disebut dien. Dunia barat menyebutnya dengan religion (English), de religi (Dutch), la religion (France), die religion (Germany).
Islam sebagai dien yang hanif terlalu naif jika dimaknai hanya sebagai religion.  Terjemahan kata ad-dien dengan “agama” pada hakikatnya tidak cukup mewakili esensi yang terkandung. Makna itu terlalu sempit. Menurut Abu al A`la al Maududi, ada empat makna dien ; Pertama, ia adalah kekuatan hukum. Dalam Islam konsep peribadatan manusia bukan hanya sekedar level ritual individual saja, tapi ia juga harus diwujudkan pada level komunitas dengan segala aturannya. Salah satu contoh riil judicious power Islam adalah ketika Rasulullah  mengatur masyarakat Islam di Madinah. Begitu juga Rusia dengan komunis sosialisnya dan Amerika dengan demokrasi kapitalisnya adalah gambaran nyata perwujudan sebuah agama.
Kedua, Ketaatan, ibadah dan ketundukan. Karena dengan kehendak Allah  manusia menjadi sesuatu yang wujud (Q.S. al-Mukiminun: 12-14). Salah satu perwujudan rasa syukur dan merasa berhutang budi kepada-Nya adalah dengan taat beribadah disertai penyerahan diri tanpa menyertakan dengan partner apapun. Contoh lain adalah beribadahnya bangsa China kepada Kong Fu Tze semenjak dinasti Han hingga sekarang adalah perwujudan sebuah agama.
Ketiga, ia adalah undang-undang, hukum, kebiasaan, tradisi, pandangan hidup (world view) manusia. Islam adalah dien karena di dalamnya terdapat formal hukum, dogma, ritual dan akhlak. Partai Ba`ats adalah agama, karena ia mempunyai hukum, tradisi dan pandangan hidup sendiri yang sangat berbeda dengan Islam, salah satunya adalah konsep nasionalisme Arab tanpa mengindahkan perbedaan aqidah dan dalam aturan mereka perbuatan zina diperbolehkan
Keempat, ia adalah perhitungan dan pembalasan. Dalam al-Qur`an dien dengan makna ini ada dalam surat al-Fatihah: 4 dan al-Infithar: 17-19. Respons manusia terhadap dien ini ada dua, Tashdiq dan Takdhib. Jika manusia memilih tashdiq (membenarkan) dan beriman, maka pahala adalah balasannya. Sebaliknya, jika ia memilih takdhib (mendustakan) kebenaran dien ini, maka sesungguhnya siksa Allah  adalah hukumannya.
DISTORSI AGAMA
Jika dilihat dari sisi historis, Islam adalah dien yang paling benar, karena ia adalah dien yang dibawa oleh para rasul dan nabi. Mereka diutus Allah , dengan mengemban misi mengajak manusia kepada Tauhid dan Islam (Q.S. Al Baqarah: 131-132). Dari sisi empirisnya, karena ia adalah dien yang tidak mengalami perubahan dan tetap sempurna semenjak ia diturunkan demi kepentingan manusia (Q.S. al-Maidah: 3)
Setiap manusia pada awal penciptaannya telah memiliki natural tendency yang murni, yaitu pengakuan syahadat (confession of faith) akan penghambaan dirinya kepada Allah. Namun setan sebagai musuh utama manusia selalu menghalanginya dari jalan lurus, menggodanya agar berpaling dari perintah Allah . Awal keberhasilannya adalah ketika sukses menyeret manusia ke dalam gelapnya kemusyrikan pada masa nabi Nuh `Alaihissalam.
Allah mengutus para rasul guna mengingatkan manusia akan janjinya. Di antara manusia ada yang kembali kepada agama fitrahnya (Islam) dan tidak sedikit yang bertahan pada kesesatan. Di antara mereka yang disesatkan setan dengan menganut agama paganisme sebagaimana kebanyakan umat-umat para nabi terdahulu. Ada juga yang beragama politeisme sebagaimana yang ada di Yunani kuno. Atau sebagaimana yang dianut masyarakat Jawa dulu, yaitu agama dinamisme  dan animisme.
Bentuk penyimpangan agama ada juga yang bermula dari dikotorinya dogma-dogma dien yang lurus dengan unsur-unsur kemusyrikan, sebagaimana yang terjadi dalam agama Yahudi dan Kristen. Sebenarnya semua agama wahyu itu satu, yaitu mentauhidkan Allah, menegaskan kebenaran yang disampaikan nabi-nabi terdahulu dan kebenaran final yang dibawa nabi terakhir. Dari sisi dapat diketahui bahwa Allah  tidak memerintahkan kepada nabi Musa dan Isa membuat agama baru, Yahudi dan Kristen.
Agama nabi Musa `Alaihissalam yang murni Tauhid dan Islam diselewengkan dan dicampuradukkan dengan hal-hal mistis.  Mereka lebih mengutamakan Talmud dan Mishnah karangan para rabbi mereka daripada yang terkandung dalam Taurat.  Bahkan sampai sekarang masih tampak di antara orang-orang Yudaism yang mengamalkan ajaran-ajaran mistis dalam tradisi yang disebut Kabbala.
Distorsi dalam agama kristen tidak kalah parahnya. Seorang rasul yang mengajak kepada tauhid Isa `Alaihissalam diasumsikan bahwa dirinya adalah satu kesatuan dari tiga oknum yang divine. Konsili Nicaea  (Council of Nicaea) pada tahun 325 M. yang diprakarsai Constantine (isn’t) the Great semakin mengukuhkan keyakinan ini. Orang-orang Arianism (para pengikut Patrik Arius yang menolak full divinity of Jesus Christ) diuber-uber dan disiksa, dilaknat dan dibunuh. Hal demikian disebabkan karena keputusan konsili yang dihadiri 318 bishop ini adalah mengukuhkan aqidah trinitas yang diusulkan oleh Bishop Alexandria St. Athanasius sebagai agama resmi dalam wilayah kekaisaran Romawi dan melarang ajaran Patrik Arius.
Penyimpangan agama tidak berhenti di situ saja, ia terus menjalar hingga zaman sekarang. Munculnya isme-isme  sebagai agama baru adalah wujud riil dari statemen ini. Rusia dengan komunis sosialisnya dan Amerika dengan demokrasi kapitalisnya adalah gambaran nyata perwujudan sebuah agama baru. Begitu juga dengan Darwinisme dengan teori evolusinya, Marxisme dengan paham agama candunya dan freudisme dengan orientasi seksnya. Dengan perbedaan esensi inilah yang menjadikan para pemikir barat mengalami kerancuan berpikir dalam memahami agama. Dan akibat yang paling fatal dari kegagalan ini adalah terjadinya pereduksian pada makna dan hakikat agama itu sendiri.
PENUTUP
Allah telah menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan manusia dari dien yang dibawa oleh para nabi dan rasul (Q.S. al-A`raf: 172-173). Kelalaian akan mithaq dan taklid adalah faktor determinan yang menyesatkan manusia dari Sabilurrusydi (jalan lurus) menuju kegelapan Sabilul ghaiy (jalan menyimpang). Kebenaran sendiri sudah final, yaitu apa yang telah nabi Muhammad  sampaikan, dan mengikutinya adalah solusi tepat untuk menyelamatkan diri dari jebakan jalan sesat lainnya. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. AL-An`am:153).Wallahu a`lam.
REFRENSI
1.    Ibn al-Qayyim al-Jauziya, Ighashat al-Lahfan min Mashayid as-Shaithan (Beirut tt) Dar al-Ma`rifah.
2.    `Abdurrahman an Nahlawy, Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha (Dimashq 1417 H./1996 M.)
3.    Majalah Islamia th ke-1 no. 3
4.    Ensiklopedi Islam (Jakarta 2002 M.)
5.    Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI Gerakan Keagamaan dan Pemikiran Pustaka al-I`tisham (Jakarta 2003 M.)
6.    Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. © 1993-2002 Microsoft Corporation.

Tag : Fikrah Islam
0 Komentar untuk "Agama Sama Dengan Dien?"

Postingan Populer

Back To Top