Kolom Abu Rusydan: Ayat-Ayat Tamhish

Jangan pernah merasa aman dari proses tamhish. Selalulah berbekal, sebagaimana seorang siswa yang hendak menghadapi ujian esok hari. Tempalah diri untuk menjadi kelompok yang:
خَلَصَتْ نُفُوْسُهُمْ مِنْ حَظِّ أَنْفُسِهِمْ
“Jiwa mereka telah bersih dari keinginan untuk mendapatkan bagian bagi dirinya.”
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana proses tamhish itu akan menyaring orang-orang yang tidak layak. Siapakah mereka? Mari simak ayat-ayat berikut ini:
  1. Surat Al-Baqarah : 249

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ قَالُواْ لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو اللّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.’ Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang diantara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’.” (QS. Al-Baqarah : 249)

Dalam ayat di atas, Allah mengumpulkan tiga kata berbeda untuk satu maksud yang sama, yaitu: syariba, yath’am dan ightarafa. Menegaskan betapa proses tamhish yang terjadi memang melalui tahapan yang berjenjang. Sebagai manusia, Tholut hanya bisa memberikan rambu-rambu normatif berupa larangan minum air sungai. Ia tidak bisa melarang secara mutlak langkah sembarang orang untuk turut serta dalam pasukan yang dipimpinnya.

Namun, seleksi bukan hanya dilakukan oleh manusia saja. Allah SWT juga mempunyai cara untuk menyeleksi mana di antara hamba-hamba-Nya yang layak memanggul amanah perjuangan, dan mana yang tidak. Itulah tamhish Rabbani yang membuat sebagian pasukan Thalut kalah sebelum berperang: “Kita tidak sanggup menghadapi Jalut dan tentaranya.” Ada tamhish structural, ada tamhish rabbani.
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus Thalut dan pasukannya ini, bagaimana seorang Mujahid mengambil bagian seperlunya saja di dunia ini. Selebihnya, untuk ditasarufkan[1] bagi akhiratnya. Sebab, tidak mungkin bersatu dalam diri mujahid: bergelimang senang dengan dunia dan kecintaan terhadap jihad fi sabilillah.

Hasil dari tamhish Rabbani ini akan membersihkan orang-orang beriman dari golongan yang suka berlambat-lambat dalam iqomatud dien.

  1. Surat An-Nisaa’ : 72-73
وَإِنَّ مِنكُمْ لَمَن لَّيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُن مَّعَهُمْ شَهِيداً (72) وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ الله لَيَقُولَنَّ كَأَن لَّمْ تَكُن بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيتَنِي كُنتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزاً عَظِيماً) 73(
  “Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ke medan pertempuran). Lalu jika kamu ditimpa musibah di aberkata, ‘Sungguh, Allah telah memberikan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka’.”

“Dan sungguh, jika kamu mendapat karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, ‘Wahai sekiranya aku bersama mereka, tentu akan memperoleh kemenangan yang agung (pula)’.”

Laman layubatthi’anna dalam ayat di atas, makna harfiyahnya adalah berlambat-lambat. Keberadaan mereka menjadi kerikil dalam sepatu yang sangat mengganggu perjalanan sebuah jamaah jihad.

Mereka selalu berada dalam comfort zone, tak mau ambil risiko. Hanya menanti peluang yang dianggap menguntungkan bagi diri mereka sendiri. Jika sebuah jamaah jihad mendapatkan musibah berupa kekalahan, mereka berbangga dan merasa diri paling benar. Namun ketika risiko yang diambil jamaah jihad membawa keberuntungan, mereka antri di barisan terdepan untuk meminta jatah dunia.
Barisan jihad sangat mungkin tersusupi oleh kelompok seperti ini. Selain juga kelompok yang selalu membuat kegaduhan internal seperti yang Allah gambarkan dalam ayat berikut.

  1. Surat Al-Ahzab: 19-20
قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا  (18) أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ( 19)

“Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah bersama kami.’ Tetapi mereka datang berperang hanya sebentar.

Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci maki kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Al-Mu’awwiq, secara bahasa bisa diartikan sebagai penghalang, atau trouble maker. Ciri khas kelompok ini adalah berusaha membangun sub-sistem di dalam sistim barisan mujahid atau jamaah jihad. Mereka, dalam ayat di atas, sesungguhya tidak pernah merasakan gentingnya suasana jihad. Namun, tiba-tiba mereka datang dan meraih perhatian, “Marilah bersama kami, mengikuti kebijakan yang berbeda dengan mainstream barisan mujahidin.”

Ketika sistem sebuah jamaah mengajak pengikutnya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kelompok mu’awiq ini menarik manusia untuk membangun sub-sistem di dalam jamaah demi memuaskan imperium egoismenya.

Menghadapi Tamhish

Seorang mujahid yang benar, tidak akan merasa aman dari proses tamhish yang akan dilaluinya, baik sadar atau tidak. Baik tamhish struktural apalagi tamhish Rabbani. Ada dua hal utama yang harus dilakukan seorang mujahid agar selamat melalui proses tamhish ini.

Pertama, hendaklah ia senantiasa bertaqarrub kepada Allah. Hati seorang manusia itu berada di antara jari-jari Ar-Rahman. Ia akan membolak-balikkan sesuai dengan kehendak-Nya. Memohon kepada Allah untuk selalu tsabat dalam menghadapi berbagai rangkaian tamhish merupakan modal awal untuk meraih kesuksesan menghadapi tamhish—dengan berbagai ragam macamnya.

Kedua, kuunuu ma’as shaadiqin. Jangan berpisah dari barisan orang-orang yang sidik. Sebab, sebagaimana srigala akan memangsa domba yang lepas barisan, setan pun akan menerkam mereka yang terpisah dari jamaah.

Ketiga, jangan tertipu oleh “sungai” yang melintas di depan kita… jangan berlambat-lambat dan jangan menjadi mu’awwiq. (kiblat.net)



Footnote: 1.Dikontribusikan, dihabiskan
Tag : Fikrah Islam
0 Komentar untuk "Kolom Abu Rusydan: Ayat-Ayat Tamhish"

Postingan Populer

Back To Top